Jumat, 16 Januari 2015

Menjelajahi Ujung Selatan Pulau Bangka (Toboali)


Menutup ahir tahun 2014,  sesuai rencana mau liburan, walupun masih dibangka gpp lah, dan alhamdulillah terealisasi. Bertepatan dengan cuti bersama hari raya natal dan libur kerja...asyeekk..Tgl 24 rabu malem langsung meluncur ke toboali, ujung selatan pulau bangka, jarak dari pangkalpinang sekitar 2,5 jam. Dan sesuai rencana kami kerumah reti mahasiswa STAIN yg ngekos dirumah eva. Sempat beberapa kali perubahan jadwal berangkat dan ahirnya berangkat sesuai rencana awal yaitu rabu malam.

Ini kali kedua kunjungan ku ke toboali, tetapi kunjungan pertama bukan untuk jalan-jalan, dan hanya menginap satu malam. Kamis pagi kami diajak sama ibunya reti kepasar suka damai, aku sangat antusias melihat aktifitas pagi dipasar tersebut, karena kali pertama mengunjungi pasar yg bisa dikatakan pasar apung, karena pasar tersebut berada  di atas air laut, pasar hanya terbuat dari jembatan yang disambung, bukan dari bangunan permanen, papan tersebut sudah mulai usang. Kapal nelayan bersandar tepat disamping pasar, dan ketika ombak tinggi air laut memercik ke pengunjung dan pedagang dipasar.

Tak banyak tempat wisata yang kami kunjungi ditoboali, hanya pantai yang dekat saja yang kami singgahi. Pantai pertama kami kunjungi yaitu pantai marisha atau lebih di kenal dengan pantai teluk buyung, jarak pantai ini dari pusat kota toboali sekitar 3 menit menggunakan kendaraan roda dua, masuk kepantai ini tidak di pungut biaya. Pantai ini ramai dikunjungi ketika sore hari menjelang magrib, muda mudi menghabiskan waktu untuk menunggu senja.

Pantai marisha, aku kurang tau kenapa pantai ini dinamakan pantai marisha, tetapi menurut cerita dari teman pantai ini sering disebut teluk buyung karena itu merupakan nama orang yang punya warung di sekitar pantai ini. maka di sebutlah pantai teluk buyung



Setelah pantai marisha kami beranjak ke pantai  bayangkara atau sering disebut pantai nek aji, di pantai ini sering dijadikan tempat untuk acara-acara tertentu, karena terbilang cukup luas. Menutup perjalanan sore itu selanjutnya kami mengunjungi benteng toboali, jarakny benteng sangat dekat dari pantai nek aji. menurut sumber yang saya baca benteng ini dibangun sekitar tahun 1852, waaww ternmyata lama juga yaa. 



benteng ini peninggalan jaman belanda, tapi benteng tersebut tidak utuh lagi, tinggi benteng ini sekitar 18 cm dari permukaan tanah sehingga dari benteng tsb kita bisa melihat kota toboali.


 Benteng ini kurang di rawat sehingga sebagian dinding benteng tumbuh akar pohon yang memuhi dinding tsb, akar pohon tersebut menambah keindahan dinding benteng karena tumbuh secara alami.

Hari berikutnya (juma’t) sore setelah hujan mengguyur toboali dan sekitarnya dan masih tersisa sedikit waktu sampai menjelang magrib kami kepantai bom panjang seperti yang telah direncanakan. 

Pantai ini dekat dari pemukiman penduduk, di pantai ini terdapat bebatuan besar, dan dengan adanya jembatan yang sangat panjang menambah keindahan pantai ini, jembatan terbuat dari papan, pondsinya di cor dg semen sehingga akan kokoh. Untuk memudahkan kita sampai ke ujung jembatan sebaiknya kita menggunakan alas kaki yg flat agar lebih nyaman. panjang jembatan kurang leboh 200 m. Di sepanjang jembatan kita bisa melihat keindahan pantai ini dari dari atas laut, karena kita ada di tengah laut. dari jarak jauh garis pantai dan rumah penduduk terlihat seperti sebuah pulau. Subhanallah..indah sekali.

Tuhh yg dibelakang terlihat seperti pulau









aku tak pernah lupa untuk mengabadikan setiap moment yang aku temui karena suatu saat nanti belum tentu aku bisa ke tempat itu lagi. yaa sebenernya ini bukan poto narsis,. sayang aja kalo fotoin pantai tapi ga ada orangnya hihhiih..ya sekalian aku nimbrung juga. di jembatan pantai ini spot yang pas banget untuk melihat sunset, tapi karena setelah hujan kamipun tidak bisa menikmati indahnya sunset di pantai ini. 












Minggu, 14 Desember 2014

Permainan Tradisional Pak Pok (Bahasa Daerah Bangka)


Sabtu kemarin 13 Des 14 secara tak senagaja saya melihat anak2 yang sedang main pak puek diteras rumah, mainan tradisional sewaktu saya masih kecil. dan ternyata walopun dijaman yang serba internet ini, anak2 dikampung ku tetap memainkan permaianan tradisional tersebut. sekilas kita bisa melihat itulah perbedaan anak kota dan anak yg tinggal dikampung. mereka menikmati masa kecilnya dengan permainan yang sesuai dengan umur mereka, mereka tidak mengenal yang namanya fb, twitter, instagram, bbm, game online dan lain sebagainya, pegang gadget pun bisa dikatakan jarang, kalaopun ada itu hanya hp biasa yang fungsinya untuk telpon dan sms.

Permaianan pak puek adalah permainan yang menggunakan batu 20 biji, dan dimainkan oleh 2 orang, satu lawan satu. yang bisa mengambil semua batu bearti dia yang memenangkan permainan. dulu batu yang digunakan adalah jenis batu berwarnah merah ukuran jempol dewasa yang didapatkan di tepi jalan dan di sekitar perkebunan. tetapi yang aku lihat kemarin merka menggunakan pecahan keramik kecil yg dibentuk bulat.
lagi maen pak puek nii..mereka tetep asyik dengan permainan tradisional walopun sekarang jaannya game online

lawannya menunggu dan memperhatikan dg seksama, siapa tau ada kecurangan, kalau salah satu timnya kalah, teman 1 tim bisa menolong/menyelesaikan perminannya tapi syaratnya yg menolong itu harus memenangkan permainan dulu baru bisa bantu yang lain
anak-anak ini cuma memainkan 10 batu, jaman saya dulu batu yg digunakan 20 butir
saya pun merasa bangga bisa menikmatai masa kecil di era 90an, masa kecil yang saya jalani penuh kebahagiaan, menikmati permainan yang nyata, berbaur dengan alam, main di hutan, sungai dan kebun. tidak seperti anak-anak dijaman sekarang, permainan hanya dilayar gadget, semuanya semu tak ada yang nyata.

Lebih baik Anak-anak bermain dialam nyata, seperti main dikebun, mainan lumpur sekalipun tak masalah yang terpenting mereka bisa merasakan kebersamaan, belajar bersosialisasi, merasakan dan pengalaman yang luar biasa yg bisa dikenang ketika mereka remaja kelak. bahkan ketika dewasa pun terkadang rasanya kangen akan suasana masa kecil yang penuh dengan petualangan bersama teman-teman, bahkan ingin mengulang semua masa-masa kecil dulu walopun itu tidak mungkin.

Rabu, 10 Desember 2014

Trip to Taman Safari Bogor

   
 6-7 Des 2014 dikasih kesempatan utk jalan2 ke luar kota, tujuannya ke kota hujan "bogor". Alhamdulillah walaupun Cuma bentar bisa menghilangkan sedikit penat yg ada dikepala. Berangkat bersama romobongan kampus terdiri dari 15 orang. Pesawat sriwijaya air lepas landas pukul 06.30. dijemput mobil dari univ budi luhur, karena weekend jalanan macet, tujuan kami ke taman safari bogor, kebetulan ini kali pertama aku kesana.      

Jam makan siang kami berhenti di rumah makan saung kuring, tinggal sedikit lagi jarak ke puncak. Tiket masuk ke taman safari utk dewasa 140,000, tidak berlaku utk semua wahana, ada wahana tertentu yang harus bayar lagi. Sebenrnya kurang cocok kalo kami yg dari kampung rekreasinya ke taman safari, karena kebun binatangnnya bener2 hutan, sebagai orang kampung aku sudah biasa liat hutan dan binatang, hanya binatang tertentu yg belom pernah aku liat.       

Taman safari ini tidak seperti kebun binatang yg biasanya kita lihat karena hewan yang tersebut dikurung, disini binatang dilepas bebas layaknya dihutan biasa. Pengunjung pun tidak boleh turun dari mobil, jadi yg boleh masuk kesini hanya kendaraan roda 4, motor tidak diperbolehkan karena berbahaya. Karena kota bogor disebut kota hujan, ketika berkunjung kesana pun hujan  turun walaupun Cuma sebentar. jadi bagi masyarakat yang penduduk asli hujan seperti itu bukan suatu penghalang bagi mereka.

Malamnya kami menginap divilla budi luhur, milik bos, suasanya sejuuk karena posisinya tinggi banget, dan dinginnya g kaut banget, karena cuaca di Bangka panas, jd g terbiasa sama cuaca dingin.